LUKISAN DIPANDANG SEBAGAI “PROSA” ATAU “PUISI”

20 November 2011

Dalam banyak teori keindahan dijelaskan, bahwa setiap manusia pastilah memiliki rasa indah dan suka dengan keindahan, baik keindahan yang bersumber dari alam maupun keindahan ciptaan manusia. Namun bila menyoal seni dikaitkan dengan keindahan, filosuf berkebangsaan Jerman, Alexander Gotlieb Baumgarten malah mempunyai pendapat lain tentang seni yakni, seni adalah keindahan, karena keindahan merupakan wujud bahkan tujuan seni.


Segala manifestasi yang dilahirkan sebagai hasil pengolahannya haruslah menjadikan rasa senang dan tidak satu pun unsur penyimpangan dapat dikatakan indah, baik secara objektif maupun subjektif. Alexander tidak bersepakat bilamana suatu karya yang ekspresif itu melahirkan bentuk-bentuk wujud bertentangan dengan rasa kesenangan dan keindahan.

Karena seni adalah tujuan positif menjadikan penikmat merasakan kebahagiaan. Karya yang tidak dapat menjadikan orang lain nikmat atas ke­indahan wujudnya bukanlah seni. Menurut Alexander tidak ada manusia di muka bumi ini yang tidak menyukai keindahan. Misalnya bangsa Eskimo sekalipun yang hidup di daerah kutub dan hanya mengandalkan pertanian sebagai mata pencaharian tetap saja menyempatkan diri untuk berkesenian, seperti seni musik dengan memanfaatkan alat-alat sederhana seperti peralatan dapur untuk mengeluarkan bunyian-bunyian namun memiliki nilai-nilai keindahan. Sekali tiga bulan mereka juga mengumpulkan sejumlah uang untuk menyaksikan tari-tarian yang digelar dalam kegiatan tahunan manakala terjadi pemanenan hasil pertanian.

Lain lagi pendapat Jackson Pollock justru menyangsikan bahwa seni seolah-olah mengejar keindah­an, sesungguhnya faktor kesenian yang terpenting justru pada proses pemindahannya, pengungkapan atau transmisinya. Ia tidak peduli apakah yang dipindahkan itu keindahan atau ketidakindahan. Perbuatan berolah seni antara lain melemparkan cat de­ngan kuas di kanvas, menggores atau menuang cairan cat dan menyapukannya dengan kuas atau media lain.

Kemudian Paul Klee, pelukis yang dibesarkan di Switzerland, berpendapat seni tidak sekadar mengungkapkan sesuatu yang terlihat mata saja. Seni menciptakan dari yang tidak tampak men­jadi tampak, dalam bentuk kongkret. Kalau istilah seni meniru alam atau Ars Imitatur Natura zaman Aristoteles disetujui sebagai ungkapan yang wajar, bagi Paul Klee peniruan terhadap alam tidak penting. Biarlah alam mencipta fenomena yang ada, tetapi seni harus dapat dihadirkan di atas alam ini sebagai tanda bahwa seni adalah imajinasi seniman yang kaya dengan corak, ragam, ide, dan fantasi. Seni bukan hanya yang indah-indah yang memang sudah diciptakan oleh alam, melainkan apa yang dapat dilahirkan sebagai wujud seniman.

Berbeda dengan pendapat Collingwood, ia menyatakan, yang diusahakan seorang seniman ialah mengekspresikan suatu emosi tertentu, setiap ungkapan dan setiap gerak yang diperbuat adalah karya seni. Akan tetapi, seluruh proses konstruktif yang merupakan prasyarat, baik bagi produksi maupun bagi renungan pemikiran karya seni sama sekali diabaikan. Satu gerak saja belum berarti merupakan karya seni. Reaksi ini adalah naluri atau insting tanpa tujuan tertentu dan tujuan itu adalah mutlak bagi ekspresi artistik. Setiap karya seni selalu diarahkan ke suatu tujuan. Pencipta karya sesungguhnya menjalankan bagiannya dalam mengungkapkan karakter. Ini merupakan suatu pendugaan mewakili ekspresi. Kalau seorang mencipta hanya hanyut oleh perasaannya, maka akan menghasilkan karya sentimental, cengeng, sebab terlalu meninggalkan re­nungan dan kreasi. Seperti segala bentuk simbolis lainnya, kesenian bukanlah reproduksi belaka dan kenyataan yang kongkret.

 

 

SENI DAN WUJUD SIMBOL

 

 Keasyikan tingkah seorang dalam gerak melahirkan karya sebagai perbuatan dan kecenderungan berseni. Sebagaimana halnya anak kecil, ia tidak peduli apakah yang dikerjakan itu mempunyai arti, dipuji, atau bahkan dicela penonton. Ia berusaha memuaskan gagasan yang tersembunyi untuk di­lahirkan dengan perantaraan gerak. Idenya dipindahkan diatas kanvas sehingga tampillah wujud. Tingkah atau aksi ini oleh Pollock dimaksud diatas disebut sebagai perbuatan seni. Yang penting, bukan hasil karya yang dinikmati semata-mata, melainkan kesenangan dan kepuasan karena perbuatannya menyenangkan.

Justru era pascamoderen bahkan kontemporer sekarang pendapat Jackson Pollock terus menggejala di dalam kesenian, apalagi bila kita membidik kepersoalan seni rupa yang terus berkembang di jagad raya ini tidak terkecuali di Indonesia. Artinya persoalan arti, pujian bahkan dicela sekalipun dianggap sebagai sesuatu yang tidak penting bagi perjalanan seniman, yang penting perbuatan melahirkan karya guna memuaskan gagasan tersembunyi disebut sebagai kecendrungan berseni dengan perantara gerak dinamika yang terus berkembang terus menjadi dinamika seniman. Karena itu tidaklah mengherankan munculnya persoalan karya yang dinikmati semata, tetapi justru kesenangan, kepuasan karena perbuatan tersebut dinilai menyenangkan.

Namun bila kita kembali kepersoalan seni yang dikaitkan dengan keindahan kemudian keindahan dikorelasikan dengan kebiasaan manusia secara umum maka diperoleh gambaran manusia biasanya memiliki kesukaan bermain dengan simbol sesuai dengan pengalaman keindahan serta simbol tiap-tiap orang tersebut.

 

Bahkan salah seorang antropolog dari Belanda bernama J. Van Baal mengatakan perihal keindahan : “manusia dapat membedakan mana yang indah dan mana yang jelek dan selalu menyatakan dirinya dalam simbol-simbol : dalam perkataan, dalam mitos, dan juga dalam seni, dimana ia menemukan pernyataan yang murni dari dorongan hatinya sendiri untuk bebas menciptakan”.

Salah satu yang sudah merupakan budaya manusia adalah simbol, dengan peran simbol budaya dapat berkembang. Manusia dituntut kemampuannya untuk memahami simbol sebagai jembatan baginya untuk tanggap terhadap segala sesuatu yang dihadapi dalam hidupnya. Oleh sebab itu dalam rangka pengembangan budaya, fungsi simbol sangatlah penting, sebab tanpa memahami simbol sulit bagi manusia untuk dapat memahami perubahan. Simbol-simbol merupakan tugu-tugu yang menandai proses belajar manusia, penunjuk ke arah pembaharuan dan penyusunan kembali.

 Dilihat dari masyarakat yang masih sangat sederhanapun ternyata hubungan antara simbol dan seni sangat erat, terlebih jika diingat bahwa seni pada kelompok masyarakat yang sederhana umumnya berhubungan erat dengan religi dalam mengungkapkan gejala fisik berupa tarian, patung, dan lukisan dalam bentuk-bentuk simbol. Gejala ini merupakan bentuk kesenian yang muncul karena adanya niat tertentu yang akan disampaikan atau sebagai ungkapan dalam bentuk dan tujuan magis religius. Karena itu muncullah seni allegoris sebagai alat komunikasi bagi seseorang.

Herbert Read dalam bukunya "Bacaan Pilihan Tentang Estetika" bertanya “dengan dasar apakah mesyarakat purba gemar meninggalkan kesan-kesan berupa garis, atau coretan-coretan pada dinding dan setiap benda-benda ?” Menurut Herbert Read, jika seseorang mengalami sesuatu perasaan yang pernah dialaminya setelah itu dengan perantaraan gerakan, garis, warna, suara, atau bentuk-bentuk yang diekspresikan secara verbal dapat mengubah perasaan sedemikian rupa, sehingga orang lain dapat memahami dan mengalami perasaan yang sama.

Hal inilah yang dikatakan aktifitas seni yang disampaikan dalam bentuk simbol. Manusia yang dikenal sebagai makhluk yang terdiri atas budi dan badan tidak dapat mengungkapkan pengalamannya secara memadai dengan akal murni saja. Maka persoalan rasa ternyata mempunyai kepekaan terhadap kenyataan yang tidak ditemukan oleh akal. Untuk mengungkapkan rasa dan karsanya, manusia bermain dengan simbol. Manusia tidak saja sebagai makhluk berfikir tetapi disebut juga makhluk bersimbol. Manusia selalu bermain dengan simbol dan mampu mengutarakan pikiran-pikiran dan perasaannya dalam bentuk-bentuk simbol, karena itu budaya manusia dapat berkembang sesuai dengan perkembangan zaman.

Dari banyak persoalan simbol yang dikemukakan para ahli dilihat dari teori-teori yang ada diantaranya dalam ranah budaya misalnya wilayah estetik, Pieree seorang filosuf Amerika dan ahli logika yang banyak menganalisis persoalan semiotika pernah mengemukakan, manusia berpikir dengan tanda yang didalamnya terdapat simbol. Bagi Pieree semiotika adalah sinonim logika yang artinya tanda merupakan elemen utama komunikasi yang dapat dibedakan atas 3 (tiga) jenis diantaranya simbol sebagaimana juga dalam seni. Bagaimana pun simbol merupakan tanda yang ditentukan oleh suatu aturan yang berlaku umum, kesepakatan bersama atau konvensi misalnya dalam contoh ringan pada gerakan tubuh atau kepala sebagai tanda setuju. Kemudian simbol terus berkembang dalam berbagai dinamika seni. Karena itu karya seni yang didalamnya termasuk seni lukis sebagaimana yang banyak ditafsir para pengamat juga dapat dipandang sebagai sebuah “prosa” atau “puisi” yang mengisyaratkan pesan dan tanda konotatif maupun denotatif. ***