Karya Seni Lukisan Sebagai Investasi

19 Desember 2011

Banyak orang beranggapan bahwa investasi non konvensional hanyalah pada saham, surat berharga, emas dan properti. Padahal karya seni juga bisa menjadi sebuah instrumen investasi yang tidak kalah menarik. Lukisan adalah salah satunya.

Seandainya Affandi masih ada, barangkali inilah rumus yang akan diajarkannya kepada kita tentang bagaimana melipatgandakan uang dengan modal minim: belilah lukisan saya! Bagaimana tidak, salah satu lukisannya yang berjudul ’Ayam Jago’ (Man with a Fighting Rooster) ternyata bisa laku di angka 3,9 miliar rupiah ketika dilelang di Hong Kong. Belum lagi lukisan-lukisannya yang lain seperti Skiing yang pernah ditawar 1,5 miliar rupiah, padahal ketika dibeli ’hanya’ berharga 200 juta rupiah.

Affandi tidak sendiri. Basuki Abdullah pun ’bernasib’ sama. Harga lukisanya yang berjudul Black Phanter dilelang dengan harga pembukaan US$ 40,000. Bahkan lukisan repronya pun masih bernilai 40 juta rupiah. Jika menggunakan konteks ekonomi masa kini, Affandi dan Basuki bisa dianalogikan sebagai pengembang properti kelas premium yang harga jualnya terus menanjak setiap tahun.

Investasi Artistik

Lukisan memang tidak sebatas dinikmati sebagai karya seni saja, namun juga sebagai aset yang bisa berkembang nilainya dalam kurun waktu tertentu. Meski demikian, lukisan bukanlah instrumen investasi yang tingkat likuiditasnya tinggi sebagaimana emas ataupun saham.

Direktur pengelola lelang Sidharta Auctioneer, Amir Sidharta menjelaskan bahwa likuiditas lukisan terletak pada nama besar pelukisnya itu sendiri. ”Karya pelukis yang lazim terjual di galeri atau di lelang, umumnya cukup mudah untuk dijual lagi. Namun tetap saja, dibanding properti dan emas, likuiditas sebuah lukisan lebih rendah.”

Amir menambahkan, sebagaimana layaknya investasi, nilai lukisan bisa naik dan bisa juga turun tergantung pada momentumnya, seperti membeli dan menjual pada saat yang tepat. Namun terkadang banyak orang yang membeli lukisan yang harganya sedang naik sehingga mereka membeli di harga yang tinggi. Padahal cara tersebut belum tentu menghasilkan keuntungan.

”Jangan membeli saat karya pelukis itu sedang naik. Justru kita harus membeli karya pelukis yang berpotensi akan naik meskipun saat itu belum naik,” ia memberi tips.

Membeli lukisan yang benar-benar disukai adalah salah satu saran yang direkomendasikan oleh Amir Sidharta. Sekalipun lukisan tersebut belum memberikan return of investment yang memadai, setidaknya ia bisa menghiasi rumah dan ruang kerja pemiliknya.

”Lukisan itu adalah investasi artistik yang dapat dinikmati dan bermakna bagi kita yang membeli,” tuturnya.

Senada dengan itu, pengusaha properti papan atas Ciputra juga mengakui bahwa mengoleksi lukisan adalah hobi, meskipun ia mengapresiasi mereka yang berinvestasi pada lukisan. Pengusaha asal Sulawesi Tengah ini menyukai lukisan-lukisan yang menggambarkan kehidupan serta memberikan pencerahan jiwa atas maksud yang disampaikan secara tersirat.

”Sangat bagus sekali bila ada yang menjadikan lukisan sebagai instrumen investasi, karena hal tersebut dapat menunjang para seniman untuk mendapatkan penghasilan tetap. Apalagi jika penghargaan masyarakat Indonesia terhadap karya seni semakin tinggi,” katanya.

Meski demikian, Pak Ci, panggilan akrab pendiri Universitas Ciputra ini, berbisnis lukisan sama sekali bukan tujuannya. ”Saya memang membuat art gallery dan menjual barang-barang seni, namun itu dalam rangka menunjang pembiayaan museum seni.”

Pelukis dan pemilik Nakhwah Gallery Oji Syatiri setuju dengan pendapat Ciputra. Semakin tinggi apresiasi masyarakat, semakin tinggi pula nilai sebuah lukisan. Dan itu artinya nilai investasinya pun semakin meningkat.

”Kemampuan calon investor dalam memprediksi minat konsumen terhadap lukisan di masa akan datang mutlak diperlukan, agar lukisan yang dibeli bisa menjadi instrumen investasi.”

Oji mencontohkan lukisan cat air karya Agus Budianto, yang pada awal kemunculannya harganya hanya berkisar 10 juta rupiah, namun sekarang justru sudah mencapai harga 25 juta rupiah. Tentu saja hal tersebut karena popularitas pelukisnya yang meningkat dan konsistensi pelukisnya dalam berkarya dengan medium pilihannya.

Contoh lainnya adalah karya Nyoman Masriadi. Di tahun 2006, salah satu karyanya ditawarkan pada harga di bawah 10 juta rupiah. Namun di tahun berikutnya, karya salah satu top master dan seniman kontemporer dunia versi majalah Sotheby’s International Previeuw ini ditawarkan pada harga 300 juta rupiah.

”Konsistensi dan idealisme terhadap tema-tema yang dipilih serta popularitas pelukisnya bisa meningkatkan nilai investasi di masa datang,” katanya menambahkan.

Portofolio Alternatif

Pengamat ekonomi dan investasi Roy Sembel menilai, investasi pada lukisan membutuhkan ketrampilan khusus dan lebih cocok bagi mereka yang memang penggemar lukisan. Sebab mereka yang lebih mengetahui proyeksi harga di masa depan. Lukisan merupakan investasi yang tidak tergantung ekonomi global dan makro sebagaimana emas maupun properti. Berinvestasi ke karya seni lebih kepada citra atau nama besar pelukis.

”Orang yang ingin investasi di bidang ini perlu bergabung ke dalam komunitas para kolektor lukisan sehingga mereka bisa tetap tune in dengan perkembangan terkini,” imbuhnya.

Untuk menjadi investor lukisan yang cerdas, Amir Sidharta memberikan tips. Pertama, pelajari tentang perjalanan para pelukis dalam peta seni rupa Indonesia. Setelah itu, calon investor juga harus belajar tentang kekuatan karyanya, interpretasinya, estetikanya dan tentu makna dari lukisan tersebut.

”Belajar tentang lukisan itu memang membutuhkan proses yang panjang,” katanya.

by. Muhammad Zulkifli
(dimuat di Bisnis Indonesia edisi Minggu, 11 Desember 2011)